RUMAH MUNGIL

Toleransi Kenyamanan

Apa yang ada dibenak kita saat mendengar Rumah Mungil?….Mmm…mungkin imajinasi kita akan membayangan rumah dengan ukuran tanah 6×10 (60m2)….6×12 (72m2)…..atau bahkan 8×15 (120m2)…..8×20 (160m2). …… Jawaban yang muncul tentu saja sangat beragam, sesuai dengan persepsi masing-masing individu. Untuk pembahasan ini, persepsi saya tentang rumah mungil adalah rumah dengan ukuran tanah dibawah120 m2 saja…

Saya ingin mengajak kita semua untuk sejenak kembali ke masa lalu, di masa penjajahan Belanda. Pada masa ini beberapa area perumahan sudah dirancang di beberapa kota besar di Indonesia. Yang menarik adalah bahwa standar luas tanah ideal untuk bisa mendirikan bangunan minimal kurang lebih 500 m2. Salah satu alasannya adalah untuk menjaga dan mendapatkan sistem sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik. Bila kita perhatikan, rumah-rumah tersebut tidak saling berdempetan/menempel satu dengan yang lainnya, sehingga dapat dipastikan bahwa semua ruangan akan mendapatkan aliran udara dan cahaya secara langsung, dan sudah tentu syarat rumah yang sehat sudah dapat dipenuhi.

Latar belakang kehidupan seseorang, lingkungan tempat dia dibesarkan dan cara dia dibesarkan akan banyak mempengaruhi tingkat toleransi kenyamanan seseorang terhadap rumah yang akan di tinggali kelak setelah dewasa, berkeluarga, dsb. Contohnya, bagi seseorang yang tinggal di daerah padat kota, di gang-gang…saya bisa membayangkan, mungkin anda akan sangat terbiasa dengan kondisi rumah seperti yang saya sebutkan diatas (60 – 120m2). Tetapi bila anda di masa kecil tinggal di daerah Menteng Jakarta..atau kawasan Dago Bandung….bagaimana ya rasanya tinggal di rumah yang memiliki luas tanah 60m2?…..

Tidak apa Mungil…. tapi harus Nyaman dan Sehat….

Siapa yang tidak ingin memiliki rumah di atas tanah 500 m2 seperti jaman ‘baheula’?..Di saat sekarang, dimana harga tanah dan bangunan melambung dan luas lahan yang semakin terbatas, sepertinya sebagian besar dari kita akan berat untuk bisa mencapainya. Tapi.sudahlah, kita tunda dulu ‘mimpi’ itu, kita fokuskan saja ke hal yang memang sangat dimungkinkan, yaitu mewujudkan rumah mungil anda dengan memasukkan unsur-unsur pembentuk kenyaman ke dalam rumah.

Kecenderungan yang sering terjadi pada rumah mungil biasanya adalah luas bangunan yang dimaksimalkan dengan menyisakan sedikit saja tanah untuk ruang terbuka. Itu pun berada di depan bangunan dan difungsikan sebagai garasi. Akibatnya muncul hal-hal yang kurang baik, yang seringkali tidak disadari karena sudah terbiasa dengan kondisi tersebut. Kondisi yang kurang baik ini antara lain adalah lembab, sirkulasi udara yang kurang baik, boros energi (lampu harus dinyalakan pada siang hari) dan lain-lain. Kondisi ini sebenarnya dapat dihindari sejak awal pembangunan atau renovasi rumah, yaitu dengan berkonsultasi pada pihak yang kompeten dalam bidang ini (Arsitek). Berikut ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian utama dalam merencanakan atau merenovasi rumah, agar tercipta kenyamanan yang diharapkan :

1. Sirkulasi (pergerakan orang) yang efisien

Sengaja saya tempatkan pembahasan sirkulasi ini pada urutan pertama, sebab ini hal penting yang lebih banyak terlupakan. Bagi saya, bila rumah memiliki luasan yang sangat terbatas, maka mengatur pergerakan orang di dalam rumah mejadi solusi yang sangat penting untuk mencapai sirkulasi yang sangat efisien agar ruangan tidak terasa sempit . Dalam teori, luasan dapat dikatakan efisien jika area pergerakan 15 % dari total keseluruhan luas rumah. Misalnya luas total rumah adalah 100 m2, maka luasan pergerakan orang di dalam rumah hanya 15 m2 saja, selebihnya (85%) adalah ruang-ruang sesuai dengan fungsi yang di inginkan (R. Keluarga, R Tidur, R. Tamu dll). Untuk memudahkan mengatur/mengecek sirkulasi yang efisien, maka ketika anda akan membangun/merenovasi, bayangkanlah perabotan rumah yang akan akan ditempatkan. Berikut terdapat contoh optimasi sirkulasi yang saya kira cukup efisien.

rt-sirkulasi

2. Ruang terbuka pada Rumah

Fungsi dari ruang terbuka ini adalah untuk memasukan udara dan cahaya siang ke dalam rumah agar di dalam ruang dapat terjadi pergantian udara sehingga udara di dalam ruang akan tetap segar dan cukup cahaya.

lay-out-pmi-viii-7

3. Pemilihan Furniture rumah yang selektif

stephane-perruchon-design-furniture

Pemilihan furniture rumah tangga yang selektif dibutuhkan untuk mendukung kesan ruang yang luas di dalam ruang yang terbatas. Selektif dalam melihat dimensinya (besar – kecil), warnanya (gelap-terang). Selain itu, dari segi fungsi, sangat dianjurkan furniture juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan. Misalnya, kursi sofa yang didalamnya bisa memuat mainan anak, atau ruang di bawah tempat tidur yang juga dapat dimanfaatkan untuk tempat penyimpanan dan fungsi lainnya.

4. Elemen Estetikgentong0011

Setelah ketiga point di atas dapat di capai maka akan lebih lengkap seandainya bisa dimasukkan unsur-unsur estetik ke dalam ruang. Misalnya, memasukan efek lampu pada salah satu dinding yang terdapat koleksi foto atau terdapat lukisan. Atau rubah lampu hias alumunium pada ruang keluarga dengan lampu hias yang bermaterikan bahan alami seperti rotan atau lainnya, sehingga kesan lembut akan muncul dalam ruang anda. Atau masukan unsur tong tanah liat yang berdiameter 50 cm ke dalam ruang terbuka yang di tanami tanaman kesukaan anda, sehingga suasana segar akan selalu hadir di dekat anda..

8 Responses

  1. ede says:

    alus pican …. desaina jarang sekali orang mendesain rumah rumah mungil n kecil biasanya banyak kedala karena keterbatsan ruang gerak dan kebutuhan ruang serta detail desain nya, juga material detailnya acan di kaluarkeun nya ……

  2. andrinurhadi says:

    Terimakasih pa Ede atas komentarnya, insya Allah saya akan menampilkan beberapa karya lainnya…semoga bermanfaat

  3. yudh says:

    keren..
    pak andri ada rumah mungil di lahan tidak beraturan gak?
    misalnya lahannya bentuk trapesium,,mikirin denahnya bingung..hehe..

    • andrinurhadi says:

      mhon maaf sebelumnya, baru saya balas. Untuk tanah ukuran 25×8, saya belum punya data yang pernah saya buat pa.
      Hanya saja untuk rumah kost, saya sempat beberapa kali membuat dan sudah 2 rumah yang saya bangun.
      satu rumah kost dengan kapasitas 20 kamar, rumah pemilik dan kost 7 kamar (semuanya di bandung).
      Untuk mendesain rumah kost yang bapak maksud, bisa kita lakukan kontrak kerja saja terlebih dahulu dengan
      biaya yang cukup terjangkau untuk tahap pra rencana saja dahulu.
      Untuk diketahui, biaya perencanaan lengkap sebesar 5% dari biaya konstruksi. Misalnya nilai konstruksi 100 juta, maka biaya desain adalah 5 juta,
      tetapi bila tahap pra-rencana bisa mencapai 1.5-2 juta saja. dengan kelengkapan gambar denah, tampak dan potongan (kalau lengkap bisa sampai titik lampu, rencana pemipaan). Demikian penjelasannya pa, mudah2an berkenan. untuk karya rumah kost, bisa dilihat di FB, confirm ke facebook saya di ‘andri nurhadi’

      salam

      andri nurhadi

Leave a Reply

*